Langsung ke konten utama

Kisah Seorang Pria Terhadap Orang Tuanya

Terdakwa dengan hukuman mati. Semua mata senapan dan bidikan anak panah tertuju padanya. Tiggal menunggu lonceng eksekusi dibunyikan maka tamatlah ia.
Ini tentang seorang pria yang seolah sudah tak berdaya lagi, dia sudah terlalu banyak masalah, polemik hidupnya seolah sudah tak ada lagi jalan untuk mengatasinya.

Setiap hari pemuda ini tergopoh menghampiri setiap orang yang ia kenal untuk meminta bantuan, namun tiada seorang pun yang peduli dan mau menolong. Matahari semakin naik lurus di atas ubun-ubunnya, keringat yang mengucur dengan cepat, mengering meninggalkan bekas di dahinya.

Kata menyerah mulai menggerogoti semangatnya secara perlahan, dia mulai lesu dan tak bergairah. Wajah yang biasanya berseri kini semakin murung, badan yang dulu kekar kini hanya tinggal tulang belulang. Badannya mulai rapuh, ia tak berdaya sama sekali, dan malam hanya jadi bagian paling sunyi dari bait-bait cerita dalam hidupnya.

Diatas ketidak berdayaan itu, tiba-tiba terbayang salah satu wajah seorang wanita yang ia temui tadi siang. Seseorang yang sudah hilang sejak ia mulai mencintainya, seseorang yang sudah merusak hidupnya, ya wanita itu, wanita yang sudah mengambil sebagian besar kebahagiaan yang ia miliki.

Perlahan air mata mengalir dari selaput matanya yg kecil, kesunyian malam semakin mencekik, suara-suara jangkrik yang bersautan seolah mentertawakan kehancurannya.

Menjelang subuh, ia masih saja belum bisa memejamkan matanya, pikirannya diajak berkeliling menyaksikan tragedi-tragedi dalam hidupnya. Ada satu hal yang selalu ia lupakan yaitu orang tuanya, ia lalu pulang ke suatu tempat dimana ia bisa menemui orang hebat yang melahirkan dan menafkahinya, namun sudah terlambat. Keduanya sudah terbaring di penghujung hidupnya.

INTI CERITA
“Jadi si pria ini adalah pria yang awalnya berhasil dan sukses, lalu ia mencintai seorang wanita yang cantik, namun cinta mebuatnya berubah jadi anak yang membangkang, ia usir orang tuanya. Setelah hartanya habis ditipu sama istrinya ia jadi terpuruk dan diterpa kesusahan. Disaat ia tersadar dan hendak meminta maaf ternyata sudah terlambat, kedua orang tuanya sudah meninggal”

Pesan moralnya adalah :
Bahagiakan orang tuamu selagi hidup, jangan sampai ia menangis karena aibmu, tapi buatlah ia menangis karena bangga atas prestasimu.

Gue lagi kangen bokap....

Selamat jalan papa, maafin anakmu belum bisa membahagiakanmu selagi engkau masih hidup, kini hanya butir-butir doa yang bisa aku persembahkan untukmu di 8 tahun setelah engkau meninggalkan kami sekeluarga. I love you papa..

Komentar

Pos populer dari blog ini

Misteri Pulau Condong Bandar Lampung

Di awal postingan, Semoga bulu kuduk lo nggak merinding denger cerita gue yang satu ini, jangan sendirian membaca postingan ini, takutnya apa gue ceritain tiba-tiba muncul di depan monitor lo. Kecuali lo udah punya ajian pamungkas buat menepis ketakutan lo..

Oke. mari kita mulai. Di awal cerita siap-siap untuk melihat penampakan yang satu ini... (klik disini)

Nah, semoga foto di atas nggak bikin lo takut. Jadi intinya gue cerita kepenasaran gue tentang Pulau Condong yang berada di Lampung Selatan ini. Gue sebelumnya pernah singgah ke Pulau ini tanpa sengaja dengan waktu yang mepet. Informasi sebelumnya yang gue dapet Pulau ini bernama Pulau Tarahan padahal yang sebenarnya Pulau Condong, maka gue putusin buat dateng lagi ke pulau ini biar puas dan bisa mengeksplore semuanya.

Bentuk pulaunya mirip mangkok terbalik, berada tidak jauh dari kawasan Pasir Putih Bandar Lampung sekitar 1,5 jam dari Pelabuhan Bakauheni dan butuh waktu untuk menyeberang sekitar 20 menit saja dari Pantai Pasir …

Gunung Tinggi 'Kan Kudaki, Lautan Kuseberangi.

Hai hai… gue sedikit cerita tentang lagu kesukaan gue, pada dasarnya gue maniak dangdut dan ngefans banget ama performance dan karya-karyanya Bang Haji Rhoma Irama yang mungkin jadi penyemangat gue buat backpacking ngunjungin tempat-tempat seru dan keren.

Musyiiikkkkkkk !! #ampe muncrat ludahnya
“Dalam aku berkelana
Tiada yang tahu ke mana ‘ku pergi
Tiada yang tahu apa yang kucari
Gunung tinggi ‘kan kudaki
Lautan kuseberangi
Aku tak perduli”
Joget dulu masbroh…. !!

#Gunung Tinggi Kan Kudaki
Gue belum terlalu banyak mendaki gunung, tapi udah pernah lah beberapa gunung dan bukit. Ada banyak destinasi gunung yang kepengen gue jabanin sayangnya harus berkelut ama cuti dan keuangan. So cuma bisa ngebuletin tanggal, kira-kira gue di tanggal itu bisa nggak ya ngambil cuti lama di tanggal itu ?? #fiuh tarik nafas.

#Lautan Ku Seberangi
Nyeberang laut yang paling banter baru Selat Sunda dan ke Kepulauan Seribu.. ahhh.. pernah gue berhayal pengen nyambangin Tanjung Pinang, Pontianak, dan lain-lain pake…

Pulau Sangiang Gagal, Pulau Camyang / Pulau Merak Besar Pun Jadi

Pulau Sangiang Gagal, Pulau Camyang / Pulau Merak Besar Pun Jadi follow @arman_dolan
Tiba-tiba mc mempersilahkan gue buat maju ke panggung... Asli antara speechles, gugup dan bahagia bercampur aduk. Tiba-tiba nafas gue megap-megap karena disaksikan 15.000 audiens di Gelora Bung Karno. Sentakan kembang api Dancer-dancer mengiringi gw masuk panggung, permainan sinar laser, efek asap dan lighting panggung yang seirama dengan hentakan musik. Mimbar sudah tersedia, karangan bunga ucapan selamat berjejer memagari pelataran Senayan. Kali ini gue mendadak jadi artis yang baru selamat dari badai dan berhasil mengungkap misteri Pulau Camyang*)


"Tes tes.." Mastiin mic menyala. "ehm" Sedikit mengoyang-goyang kaki menyembunyikan kegugupan.
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh" Hadirin menjawab salam dengan serentak lalu kemudian hening.
"Sebelumnya, saya bersyukur saya masih diberikan kesehatan sama Allah Swt, berkat beliau lah saya bisa melangkah sejauh i…